Senin, 23 September 2013

Ade Juni:
KEMULIAAN HATI SEORANG MUSLIM

p
ada suatu hari, hiduplah seorang anak muda di tengah hutan lebat yang hijau dan masih asri serta tumbuhan-tumbuhan liar yang mengelilinginya. Namanya adalah Ahmad bin Salam. Ia mempunyai paras yang menawan dan banyak keterampilan. Tapi, ia hidup sendiri di tengah hutan yang rindang nan indah itu. Ia mempunyai rumah yang sederhana yang terbuat dari geribik dengan lantai tanah beratapkan jerami kuning. Namun ia tak pernah mengeluh akan hidup yang ia jalani.
 suatu pagi, ia pergi mencari makanan untuk kebutuhannya setiap hari. Ia pergi dengan membawa keranjang yang cukup besar. Ia mencari & terus mencari makanan seperti buah, sayur, dll. Alhasil ia tak memperoleh sesuatu apapun, hanya rasa penat yang ia dapatkan. Ia pun kebingungan, ia lantas memejamkan mata sambil berdo’a dalam hati, meminta rezeki kepada Allah SWT. Setelah berdo’a ia langsung membuka matanya itu. Tiba-tiba, ia melihat banyak pohon buah yang menjulang tinggi keatas dan ia pun tersentak kaget.
“Aneh, kenapa ada banyak pohon buah disini? Padahal tadi hanya ada pohon-pohon liar” kata Ahmad yang bingung sambil melihat-lihat sekitar kejadian aneh itu.
                Ahmad kemudian berfikir sejenak. Ia menyadari bahwa kejadian itu bukan suatu kebetulan, melainkan suatu karunia yang diberikan Allah padanya. “Alhamdulillah. Terima kasih atas rezeki yang telah engkau berikan padaku ya-Allah” tutur Ahmad dalam hatinya.
Ahmad lalu mengambil berbagai macam buah itu dari pohon-pohonnya. Awalnya ia mencoba untuk melempari pohon-pohon itu dengan ranting, batu, dan lain sebagainya. Akan tetapi, ia memutuskan untuk memanjat agar lebih banyak menuaikan hasil. Kebetulan Ahmad pandai dalam urusan memanjat. Tanpa  buang waktu lagi, ia langsung memanjat pohon-pohon itu satu per satu. Ia memanjat dengan mudahnya seperti ia sedang berjalan. Kedua kakinya yang mengepit pohon dan mendorong tubuhnya, serta tangannya yang menarik seluruh tubuhnya hingga ia sampai di atas. Bayangkan bagaimana rasanya memanjat pohon yang tingginya kira kira 25 meter?, tapi bagi Ahmad masalah itu tak tak terlalu berarti, demi memenuhi kebutunhan hidupnya, ia harus bekerja dengan tekun, dan keras.
Selang beberapa waktu, “akhirnya aku sampai juga diatas pohon terakhir” ungkap Ahmad dengan tangan yang mengusap keringat di dahinya sendiri, menandakan ia tengah kelelahan. Di pohon terakhir itu ia memetik buah yang melekat disana lalu turun dengan hati-hati.
Setelah sampai dibawah, ia duduk dan istirahat sambil menghela nafas. Wajar saja, siapa yang tidak lelah akan hal itu.
Matahari telah mencapai ketinggian puncak. Seperti biasa, ia harus segera pulang dan shalat sebagaimana mestinya. Ia lalu memasukkan buah-buah yang ia peroleh hasil jeri paya-nya sendiri kedalam keranjang besar yang dibawanya lalu pulang.
Ketika di tengah perjalanan, “krsek kletek kltak mbeee” Ahmad mendengar suara gemerusuh, seperti suara patahan ranting, kayu dan semak-semak serta suara rusa diantara suara-suara tadi. “apa itu? Hm mungkin aku salah dengar saa” Ahmad yang tak terlalu memperdulikan itu karena ia sedang di kejar-kejar waktu.
“krsek tak tek tuk mbeee mbeee” lalu suara itu datang lagi dari arah yang sama dan terus membayangi pikiran serta telinga Ahmad.
“siapa itu?” Tanya Ahmad yang ingin tahu apa yang terjadi. Ia lalu menghampiri suara itu. Dan ternyata, setelah dilihat suara itu berasal dari seekor anak rusa yang kakinya terselip ranting pohon. Tak sempat berkata apapun, Ahmad segera membebaskan rusa kecil itu dari ranting yang menjerat kakinya dengan sangat teliti karena semuanya bergantung pada Ahmad.
Rusa itupun berhasil dilepaskan, kemudian rusa itu langsung pergi dengan luka lecet yang ringan. Lalu Ahmad memandangi rusa itu seraya berkata “malangnya nasib rusa kecil itu”. Ahmad berkata tanpa memikirkan nasibnya yang malang itu. Sungguh mulia hati Ahmad bin salam.
Setelah peristiwa itu, Ahmad melanjutkan perjalanan pulang. Setibanya di rumah, ia meletakkan bawaannya tadi ke dapur, lalu ia berwudhu dan shalat. Setelah ia shalat ia tak perna lupa untuk berdo’a pada yang maha kuasa. Memohon ampun, meminta petunjuk, dan mendo’akan kedua orang tuanya yang telah tiada.
Setelah beribadah, selanjutnya ia kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerajannya, yaitu memakan makanan hasil bawaannya. Ia pun memakan dengan lahap. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, “tunggu dulu, aku ingat suatu hadits yang berbunyi: makanlah sebelum lapar, selesailah sebelum kenyang” Ahmad yang kala itu sedang makan dengan lahap, justru ia harus menahan hawa nafsunya.
Usai makan, ia pergi dari rumah menuju suatu tempat yang memang tempat itu merupakan tempat yang biasa ia gunakan dikala ia akan melemaskan tubuhnya & menafsirkan isi hatinya. Ditempat itu iya sudah membangun sebuah pondok di bawah sebuah pohon yang bahkan ia tak tau pohon apa itu. Ia membersihkan area itu seorang diri dan dengan sebilah pisau panjang yang biasa disebut parang. Ia mengayunkan tangannya yang sedang menggenggam parang ke arah potongan kayu 1 per 1 agar ia dapat membuat pondok yang layak untuk di tempati. Sungguh hebat Ahmad dapat membangun semua itu sendirian.
Setelah ia sampai di pondok miliknya itu, ia segera melemaskan tubuhya diatas pondok yang memiliki ketinggian + 2 meter lalu tidur dengan nyenyak. Saat ia bangun, ia kaget melihat langit yang menguning dengan awan tebal seperti hamparan padi yang di selimuti debu hitam. Karena kaget melihat cuaca itu, ia sampai terjatuh di pondoknya.
“aduh sakit, tubuhku seakan hancur remuk semua.” Kata Ahmad yang  sedang kesakitan karena jatuh dari pondoknya sendiri. “Waduh, sudah berapa lama aku tertidur?. Sepertinya langit sudah menunjukan waktu sore dan akan terjadi badai. Aku harus segera pulang sebelum terjadi badai.” Kata Ahmad yang sedang panik. Ahmad pun bergegas meninggalkan pondoknya lalu pulang kerumah.
Belum 1 per 4 perjalanan, tiba-tiba turun hujan disertai angin kencang layaknya akan terjadi perang dingin. Yang lebih ngeri lagi, si hujan yang turunnya keroyokan. Melihat itu semua, Ahmad berlari dengan langkah kaki yang sangat cepat seperti dikejar anjing.
Sampai di dekat rumah, ia melihat dari kejauhan rumahnya yang hancur ditimpa pohon serta terbawa angin yang kala itu keadaan anginnya seperti angin putting beliung. Ia pun terdiam dan mencoba untuk tetap tabah. Setelah beberapa saat merenung, Ahmad lalu memutuskan untuk kembali ke pondoknya. Begitu sampai, lagi-lagi ia kaget karena melihat nasib pondoknya yang hancur lebur diterpa badai sama seperti rumahnya tadi. Ia melihat semua itu denga tatapan yang terlihat kosong dan putus asa. Tubuhnya pun terkulai lemas dan ia pun duduk diatas rumput yang basah tersiram air hujan. Lalu ia termenung sambil menatap langit. Sungguh tragis lagi miris nasib yang ia alami.
Kemudian, “ aku tak boleh kalah dari keputus asaan. Aku haru menang. Aku harus sabar dan tabah menghadapi ujian-ujian ini, Karena aku yakin tuhan pasti telah mempersiapkan rencana yang bagus untukku” lagi & lagi Ahmad mencoba sabar dan tabah menghadapi cobaan yang sedang dialaminya itu.
“mbee mbee” tiba tiba ada suara aneh terdengar dari balik pohon di sebelah kanannya. “suara apa itu? sepertinya suara itu tak asing lagi bagiku.” Ahmad sedikit menerka suara itu.
“mbee mbee” lagi-lagi terdengar suara yang sama. “tak salah lagi, itu pasti suara rusa yang kutemukan tadi siang saat aku ingin pulang, tapi apa yang dilakukannya di tengah hujan lebat begini? Apa ia tersangkut ranting lagi?” Ahmad pun berdiri dan pergi ke arah suara itu dengan rasa heran.
Ia memeriksa suara itu. Ternyata memang benar itu rusa yang ditolong oleh Ahmad tadi siang. Ahmad sedikit kaget sambil bertanya dalam hati “apa yang ingin dilakukan ole rusa ini?”. “mbee mbee” tapi rusa ini terus mengeluarkan suara seakan ia ingin berbicara pada Ahmad.
“sepertinya rusa ini ingin menunjukan sesuatu padaku. Mungkin aku harus mengikuti rusa ini, dan mungkin saja ia ingin meminta bantuanku” tutur Ahmad dalam hati.
Lalu, rusa itu berlari ke sebuah arah dan Ahmad pun mengikutinya. Tak lama kemudian, Ahmad melihat dari kejauhan sesuatu seperti goa yang besar dan megah. “apa itu? Benarkah itu goa atau tempat tinggal hewan buas? Apa yang sebenarnya dipikirkan rusa ini?” Ahmad selalu bertanya dalam hatinya.
            Secara mendadak, sang rusa berhenti tepat didepan goa yang besar & megah tadi. “sungguh indah goa ini. Siapa yang membangun goa semegah ini?” Ahmad takjub & terkesan melihat goa itu.
            “mbeee” rusa itu lagi lagi membuat Ahmad bingung & kali ini rusa itu masuk kedalam goa.
            “apa yang dibicarakan rusa ini? apa yang akan ia lakukan? Kenapa ia selalu berbicara. Andaikan saja aku dapat mengerti apa yang ia bicarakan” dengan penuh harap ahmad bertanya dalam hatinya sendiri. Ahmad pun mengikuti rusa itu dengan hati-hati & teliti. Jangan sampai ia salah langkah. Siapa tahu goa itu merupakan tempat hewan buas..
            Sampai di tengah goa, “tes… tes… tes…, wushhh crrr” suara gemericing air yang berasal dari tetesan air goa dan mata air yang terdapat dalam goa tersebut sehingga membuat riuh suasana. Lalu Ahmad juga terpana melihat sesuatu yang menakjubkan. “subhanallah, apakah yang aku lihat ini adalah sebuah kenyataan? Atau  hanya sebuah ilusi belaka? Tak mungkin ada berbagai macam makanan dan suara riuh serta rintih air yang keluar dari mata air yang jernih di dalam goa seperti ini, lalu siapa orang di balik semua ini?” Lagi-lagi Ahmad terkesan  melihat semua ini. Seakan ini hanya mimpi baginya. Ia kemudian melihat lihat kembali seisi gua itu.
            Tiba-tiba, “wahai Ahmad, sekarang goa ini akan menjadi rumahmu. Ini adalah imbalan bagimu karena kau pernah menolong sesekor rusa. Tidurlah dengan nyenyak, makanlah dan minumlah dengan lahap, karena kau pantas mendapatkannya.” Ahmad kaget karena tiba-tiba is mendengar ada suara yang menggelegar yang sedang bicara padanya.
            “suara apa itu? Tapi sepertinya tak ada siapapun. Apa itu apa kah yang brusan ku dengar berasal dari berasal dari Allah SWT yang disampaikan melalui goa ini. Subhanallah. Terima kasih ya Allah, sungguh hamba bersyukur atas nikmat yang telah kau berikan” Hati Ahmad berdegup kencang seperti genderang mau perang.
            Tiba-tiba, “mbee” muncul seekor rusa yang pernah ditolong Ahmad bersama dengan keluarganya juga. Lalu ahmad menggerakkan kepalanya kearah rusa-rusa itu.
            “ Terima kasih rusa kecil yang manis. Berkatmu aku mendapatkan semua ini dan. apakah itu kelurgamu rusa? Jika memang benar, sungguh aku sangat sayang padamu beserta keluargamu. Tapi sepertinya aku akan pergi ke kota guna mencari pekerjaan dan tempat tinggal tentunya. Aku tak akan melupakanmu rusa.” Ahmad pun menghampiri rusa itu dengan perasaan terharu sambil bebicara padanya. Lalu Ahmad pergi meninggalkan rusa dan gua itu dengan membawa bekal secukupnya agar ia dapat sampai kekota.
***
            Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam, ia pun sampai di sebuah kota yang bernama MAKKAH. Disana, ia terus menggerakkan kakinya serta menawarkan diri selama berhari-hari agar dapat bekerja di suatu tempat yang terbilang halal. Tapi hasilnya ‘nihil’, ia tak menemukan satu satupun yang ia cari. Ditambah lagi ia selalu dihina oleh orang-orang yang melihatnya Karena pakaiannya yang kusam & kumel. Tapi ia tak pernah mengeluh, bahkan ia selalu tersenyum pada orang-orang yang menghinanya tadi.
            Ketika ia duduk di sebuah kursi sambil menatap langit dengan senyuman, tiba-tiba ada seorang pria menghampirinya. Lalu, pria itu berkata “wahai anak muda sungguh iba hatiku melihat engkau belakangan ini. Sungguh engkau merupakan pria yang terpuji. Siapa namamu dan apa tujuanmu kesini serta dari mana kau berasal”. Mendengar kata-kata pria itu, Ahmad pun tersenyum sembari menjawab “terima kasih pak, sebenarnya saya berasal dari hutan disebelah barat KU’BAH. Dan tujuan saya kesini untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan, karena saya baru mengalami musibah, kalau boleh saya tahu, siapa nama bapak?”. lagi-lagi pria ini merasa iba mendengar cerita dari Ahmad. “namaku adalah aziiz. Sungguh perjalanan yang jauh kau berjalan kesini. Oh iya, kabetulan saya punya 1 lagi rumah yang sederhana. Kebetylan rumah itu tak ada yang menempati. Jadi, kamu bisa tinggal disana. Saya juga punya suatu pekeraan yang halal untukmu. Saya harap kamu menerimanya.” kata Pak Aziiz yang dengan ikhlas akan memberikan sedikit harta miliknya pada Ahmad. Kebetulan juga pak Ahmad adalah orang yang terkenal akan kebaikan dan kebijaksanaannya.
            “Alhamdulillah. Baiklah saya akan menerima tawaran bapak. Tapi, sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya pada bapak.” Dengan hati gembira Ahmad pun menerima tawaran pak aziiz.
“kalau begitu ikuti saya anak muda, saya akan mengantarmu” pak Aziiz pun berjalan menuju rumah yang akan ditempati Ahmad. “baiklah pak” pungkas Ahmad sambil berjalan mengikuti langkah kaki pak Aziiz yang lumayan cepat.
            Sampailah mereka ditujuan, Ahmad pun diperkenalkan pada seorang wanita yang bernama Fatimah yang tak lain adalah putri dari pak Aziiz sendiri. Fatimah mempunyai paras yang cantik jelita, memakai hijab dan menutup semua auratnya. Sungguh Fatimah merupakan salah 1 wanita terpuji.
            Setelah proses perkenalan, Ahmad diberikan pakaian dan makanan serta minuman oleh pak Aziiz. Lalu mereka mengobrol dengan singkat. “Ahmad tinggalah disini, dan sekarang kau boleh istirahat, setelah itu aku akan bicara padamu mengenai pekerjaan” pungkas pak Aziiz lagi dengan kerendahan hatinya. “saya sungguh berterima kasih pada bapak, semoga tuhan membalas semua perbuatan baik bapak. Amiin” Ahmad sungguh bersyukur dan berterimakasih pada pak Aziiz.
            Pak Aziiz pun pulang ke rumahnya. lalu Ahmad juga masuk ke dalam rumah yang diberikan pak Aziiz, lalu istirahat.
            Setelah keduanya selesai beristirahat, mereka pun berkumpul & bebicara mengenai pekeraan yang akan di berikan pak Aziiz pada Ahmad. “Ahmad, saya akan memberikan pekerajaan padamu. Mulai sekarang kamu akan menjadi peternak sekaligus penjual susu di pasar. Apa kamu mau?” Tanya pak Aziiz. “dengan senang hati saya akan merimanya pak. Terima kasih Pak Aziiz” Ahmad pun menerima dengan senang hati.
            Keesokan harinya, Ahmad mulai bekerja. Pertama, ia harus memeras susu sapi dari sapi-sapi peliharaan pak Aziiz, kemudian ia menjualnya ke pasar yang tak jauh dari rumahnya. Kegiatan itu pun ia lakukan sehari-hari. Dan pada suatu hari, ketika Ahmad sedang menjual susu di pasar, ia difitnah oleh seseorang di tengah kerumunan masyarakat yang berada disana.
            “hai Ahmad mengakulah bahwa kau telah menjual susu palsu pada semua orang” dengan suara yang lantang seseorang memfitnah Ahmad.
            “astaghfirullah. Tidak mungkin aku melakukan itu” dengan suara lemah lembut Ahmad membantah.
            “alah, jangan banyak celoteh kau Ahmad. Jika memang benar, maka biarkan aku memeriksa tempatmu itu” masih dengan nada yang kasar laki-laki it uterus mencoba menekan ahmad.
            “silakan, jika itu yang anda kehendaki” dengan tenangnya Ahmad menawab kata-kata itu.
            Saat memeriksa tempat Ahmad berjualan, pria tadi mengeluarkan botol air yang besar dari suatu tempat dimana Ahmad berjualan, lalu mencampunya ke dalam susu susu milik Ahmad. Itu merupakan rencana yang telah ia kerjakan secara diam-diam sehingga Ahmad tak tahu. Sungguh licik pria itu.
            “ternyata, apa yang aku bicarakan memang benar adanya kau telah mencampur susu milikmu denga air agar terlihat banyak.” pria itu lalu merasa puas dan menghancurkan semua barang-barang jualan milik Ahmad. “sebenarnya apa salah saya, sehingga saya diperlakukan seperti ini. sungguh itu bukan perbuatanku” pungkas Ahmad yang tak tahu apapun.
            “masih nanya lagi! Sebaiknya kamu pergi dari hadapanku” tanpa perasaan orang tadi mengusir Ahmad. “baiklah, sungguh saya ikhlas dengan semua ini” Ahmad lalu pulang dengan sedih hati. Tapi, ia tetap sabar dan ikhlas.
            Setibanya di rumah, “apa yang teradi padamu hingga kau jadi murung seperti ini” Tanya pak Aziiz melihat ekspresi wajah yang tak pernah dilihatnya dari Ahmad. “maaf pak, saya telah membuat bapak kecewa. Hari ini saya telah dituduh memalsukan susu. Padahal saya tidak pernah melakukannya” jawab Ahmad.
            “siapa orang yang telah memperlakukanmu seperti ini, Ahmad?” Tanya pak Aziiz dengan kesal karena mendengar Ahmad diperlakukan seperti itu “sudahlah pak, saya yang akan bertanggung jawab. Lagi pula saya tidak tahu siapa orangnya. Kita do’akan saja semoga tuhan membuka pintu hatinya. Amiin” kata Ahmad yang mulai tersenyum.
            “sungguh mulia hatimu wahai Ahmad. Baiklah, kau tidak perlu mengganti apapun. Selagi bapak menggantikanmu berjualan, sebaiknya kamu tetap dirumahmu dulu & jangan pergi  sebelum suasana tenang” tutur pak Aziiz dengan  rasa haru.
            “baiklah pak. Terima kasih karna kau sungguh baik padaku” ungkap Ahmad yang memuji pak Aziiz dari luk hati yang paling dalam.
            Ahmad pun tetap tinggal di rumahnya. Sementara urusan makan & minumnya akan diurus oleh aanak pak Aziiz(Fatimah)
***
            Beberapa hari kemudian setelah peristiwa yang menimpa Ahmad, ada pengumuman yang  berisi’dicari orang yang dapat menyembuhkan penyakit suamiku(azhar). Rumahnya di jalan al-rahman no 24. Jika sembuh akan diberi imbalan’. Setelah mendengar pengumuman itu, Ahmad segera bergegas mermpersiapkan diri lalu obat-obatan yang ia punya untuk menyembuhkan pak Azhar. Semula ia dilanggar oleh pak Aziiz dan putrinya untuk pergi, tapi karna niat Ahmad yang tulus, akhirnya pak Aziiz memberi izin pada Ahmad. Ahmad pun pergi dengan niat yang mulia.
            Setibanya di rumah pak Azhar, Ahmad langsung dintanya istrinya “siapa kau? Apa kau ingin menyembuhkan suamiku?” dengan nada sedih.
            “maaf bu, nama saya Ahmad. Saya kesini untuk membantu masalah kalian” kata Ahmad dengan nada suara yang lemah lembut.
            “kalau begitu ikuti aku. Aku akan menunjukan tempat suamiku terbaring” kata istri pak Azhar sambil menunjukkan tempat pak Azhar berbaring.
            Setelah melihat wajah pak Azhar, ahmad pun kaget, karna dia teringat suatu kejadian saat ia berjualan susu. Ternyata, orang yang pernah memfitnahnya dulu adalah pak Azhar sendiri, tapi ahmad tetap merahasiakan itu semua bahkan niatnya untuk menolong nyawa pak Azhar semakin besar.
            “inilah suamiku wahai Ahmad. Aku mohon padamu, sembuhkanlah beliau. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Sepertinya kau kaget melihat suamiku. Apa kau pernah mengenalnya?” Tanya istri pak Azhar yang heran melihat ekspresi raut wajah Ahmad yang terlihat kaget setelah melihat wajah pak Azhar.
            “baiklah. Aku akan berusaha semampuku untuk menyembuhkan pak Azhar. Sekali lagi saya mohon maaf bu, saya tak pernah mengenalnya” jawab Ahmad yang merahasiakan aib pak Azhar.
            Ahmad pun mulai mengerjakan tugasnya. Ia berusaha sekuat tenaga dan dengan sungguh-sungguh serta ikhlas untuk menyembuhkan pak Azhar.
            Setelah beberapa jam kemudian, Ahmad kemudian keluar dari kamar pak Azhar dan berkata pada istri pak Azhar sambil tersenyum seraya berkata “Alhamdulillah, tugas saya sudah selesai.  Mengenai suami ibu, beliau akan sadarkan diri dalam waktu + 30 menit ke depan. Lalu berikan ramuan obat ini padanya secara rutin hingga kondisi pak Azhar benar benar fit”. Ahmad juga memberikan amanah pada istri pak Azhar.
            “terima kasih Ahmad, akan aku laksanakan amanatmu sampai suamiku sembuh. Tapi, sebelumnya aku akan memberimu sesuatu karna telah menyelamatkan suamiku” ibu Azhar sungguh gembira mendengar kabar dari Ahmad dan ingin memberikan Ahmad hadiah yang istimewa.
            “terima kasih kembali bu. Tidak, tidak usah bu, saya ikhlas melakukannya. Saya harus segera pulang karna masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan” jawab Ahmad dengan ketulusan hatinya.
            “sekali lagi saya ucapkan terima kasih Ahmad. Suatu hari tuhan akan membalas kebaikanmu”bu Ahmad yang terkesan karena kebaikan hati Ahmad.
            “terima kasih bu, saya mohon pamit. Assalammu’alaikum Wr. Wb.” Ahmad lalu pergi dengan tenang meninggalkan pak Azhar yang tak sadarkan diri dan keluarganya.
            “Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Hati-hati dialan wahai Ahmad bin Salam” istri pak Azhar sungguh bangga pada Ahmad.
            ***
Beberapa hari kemudian Ahmad sedang mencuci sapi-sapi milik pak Aziiz, tiba-tiba pak Azhar bersama istrinya mengunjungi Ahmad yang sedang sibuk itu. Mereka kemudian berbincang-bincang bersama-sama di ruang tamu milik pak Aziiz. Pak Azhar pun taubat lalu ia membongkar seluruh rahasia jahat yang pernah ia lakukan dulu kepada semua orang. Kemudian, ia meminta maaf kepada Ahmad dan orang-orang yang pernah ia dzalimi dulu. Lalu pak Azhar memberikan 1 per 4 harta miliknya kepada Ahmad, 1 per 4 diberikan pada anak yatim & farkir miskin. Setelah ia berbuat baik dan menebus kesalahannya, ia pun hidup tentram dan damai serta kembali menjual susu seperti biasa.
***
            Suatu hari, pak Aziiz mengalami sakit parah. Ahmad mencoba untuk menyembuhkan pak Aziiz namun tak ada hasil. Berbagai macam tabib, tapi tak ada satupun tabib yang dapat menyembuhkan pak Aziiz. Sang anak (Fatimah) pun menangis dan terus menangis melihat ayahnya (pak Aziiz) yang jatuh sakit dan tak ada yang dapat menyembuhkannya.
            Suatu ketika, saat pak Aziiz ingin menghembuskan nafas terakhirnya ia memberikan sebuah amanat pada Ahmad “wahai Ahmad. Aku serahkan semua milikku padamu dan kuharap kau dapat mengembannya serta merawatnya dengan baik. Putriku, Fatimah, akan aku serahkan padamu juga. Maksudku kau harus menikahi putriku dan menyayanginya serta menjaganya seperti kau menyayangi dan menjaga orang tuamu. Aku akan  pergi meninggalkan kalian. Jadi, laksanakanlah amanat ku yang terakhir ini.” dengan nada putus-putus pak Aziiz menyampaikan isi hatinya sebelum ia kembali ke Rahmatullah.
            Fatima lalu menunduk dan menangis sambil berkata “jangan katakana itu wahai ayah ku. Kau pasti sembuh dan aku akan melaksanakan semua amanat darimu.” Dengan nada tersedu-sedu.
            Ahmad juga berkata “ benar apa yang dikatakan putrimu wahai pak Aziiz, aku pun akan melaksanakan amanat yang kau berikan jika kau sembuh kelak” yang sambil menunduk.
            “kalian tak perlu bersedih, karena semua yang hidup pasti akan mati. Maka inilah saatnya aku untuk meninggalkan dunia ini. Asyhaduallaa ilahailallah, wa  asyhaduanna muhammada rasulullah” pak Aziiz pun menghmbuskan nafas terakhirnya (meninggal dunia) dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat*.
*ada suatu hadits yang mengatakan : RASULULLAH SAW bersada “barang siapa yang mengucapkan 2 kalimat syahadat sebelum ia wafat, niscaya allah akan memasukkannya ke dalam syurga”
            Ahmad dan Fatimah serta orang-orang yang melihat kejadian itu sungguh bersedih dan berduka karena kehilangan seseorang yang sangat baik bijaksana dalam segala urusan dan masalah.
            “aku akan melaksanakan amanat yang kau berikan, wahai ayahku.” Tutur Ahmad dan Fatimah serentak. Dalam hatinya, Ahmad sungguh bersedih tapi ia mencoba bersabar dan tabah. Begitu juga Fatimah, ia sangat sedih karena kematian ayahnya, seakan itu terjadi begitu cepat. Ahmad pun mencoba membujuk Fatimah untuk tetap sabar dan tabah.
            Setelah itu mereka mempersiapkan acara pemandian, pembacaan do’a, penyolatan, dan penguburan. Setelah semuanya Semua kegiatan diikuti oleh Ahmad dan anak pak Aziiz (Fatimah), kecuali pemandian. Hanya pria yang boleh ikut.
            Setelah beberapa hari setelah meniggalnya pak Aziiz, Ahmad dan Fatimah pun mengerakan pekeraan seperti biasanya. Ahmad memeras dan menjual susu, Fatimah lalu mengerjakan pekerajaan rumah seperti biasa. Meskipun masih ada suasana duka.
***
            Dan setelah berjalannya waktu Ahmad melamar Fatimah sebagai istrinya. Fatimah pun menerima dengan senang hati. Mereka pun menikah*.
*Nabi Muhammad SAW memberika sunah kepada umatnya untuk menikah apabila telah memenuhi syarat.
            Kemudian mereka pergi ke hutan yang berada di sebelah barat KU’BAH, dimana tempat itu merupakan tempat tinggal Ahmad sebelum ke kota MAKKAH dan bertemu pak Aziiz.
            “Fatimah, Inila tempat tinggalku dulu. Disinilah tempat ku bernaung sendirian, semua yang pernah kulakukan disini tak akan aku lupakan.” Tutur Ahmad dengan perasaan sedih. “sudahlah, kau tak perlu bersedih suamiku.” Fatimah dengan nada mengolok.
            Selanutnya mereka pergi ke goa tempat tinggal rusa yang pernah menolong Ahmad. Kemudian mereka membangun sebuah rumah untuk tak lain ialah untuk mereka sendiri. Setelah selesai hiduplah mereka disana bersama rusa-rusa yang ada disana. Mereka membuat peternakan sapi dan pabrik susu. Tak sia-sia, usaha mereka menjadi sangat sukses. Mereka berdua pun hidup tentram dan damai.
            Beberapa tahun kemudian mereka mempunyai 3 orang anak yang bernama Sakinah, Mawaddah Warahman. Setelah besar anak-anak dari Ahmad dan Fatimah melanjutkan usaha yang diberikan oleh Ahmad tanpa ada rasa iri dengki, Lalu karena 3 keturunan Ahmad dan Fatimah inilah, maka terbangunlah sebuah desa yang bernama desa AHFAT (singkatan dari Ah mad dan Fatimah). Nama Ahmad diabadikan karena kemuliaan hati istri dan dirinya. Desa ini menjadi desa yang penuh dengan orang-orang saleh yang tak lain berasal dari keturunan Ahmad, dan desa ini pun akhirnya hidup tentram dan damai.

***Selesai***






Selasa, 17 September 2013

cari

Lagi cari sesuatu yang bermanfaat untuk dipublikasikan.